-KARTINI-

Kartini Sang LegendaKartini Ku Kini…

21 April 1879 (28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808) di Mayong, Jepara. Seorang bayi wanita yang kelak menjadi tokoh pembaharu, telah lahir. Dia lah Raden Ajeng Kartini. Ia tumbuh dalam keluarga keraton. Ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat, ibunya bernama M.A. Ngasirah, Suaminya bernama Raden Adipati Joyoningrat, Anaknya bernama R.M. Soesalit. Dia anak ke 5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri yang bernama : R. M Sosroningrat, Pangeran A. Sosrobusono (Bupati Ngawi), R.A. Tjokroadisosro, Drs. R.M. Sosrokartono, R.A. Rukmini, R.A. Kardinah (Bupati Tegal), R.A. Kartinah, R.M. Sosromuljono, R.A. Sumantri, R.M. Sosrorawito. Salah satu prestasi awalnya adalah mendirikan Sekolah untuk Wanita Jepara & Rembang. Perjuangan awal itulah yang melejitkan namanya.

Kisah ini berawal dari semangatnya mempelajari Al Qur’an pada seorang ulama di keraton. Huruf demi huruf Kartini pelajari, ayat demi ayat Kartini tekuni. Agama Islam yang telah diyakininya sejak kecil enggan Kartini lepaskan. Dengan tetap memegang teguh Islam dan semua ajarannya, Kartini berarti telah tidak merendahkan derajatnya. Sebagaimana agama penjajah yang dinilai merendahkan derajatnya. Detik demi detik Kartini gunakan untuk mempelajari dan mendalami Islam yang akhirnya berbuah pada upaya nyata perbaikan kaumnya dengan memperjuangkan pendidikan dan hal lainnya. Hal yang Kartini dapatkan dari waktu-waktu belajar Al Qur’an, sehingga terlontar komentar yang Kartini tulis dalam surat dan bukunya. Jeritan jiwa Kartini setelah membaca tafsir Al Qur’an, “Wat zijn toch stom, toch dom, om een heel leven lang een berg schatten naast ons te hebben et het niet te zien, niet te weten” yang artinya “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami.” “Wij zochten niet demenschen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand”, yang artinya, “kami tidak perlu mencari pelipur hati pada manusia, kami hanya berpegang teguh pada tangan Allah.” Dari kumpulan surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah saat itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Rasa kekagumannya terhadap nilai ajaran Al Qur’an dituturkan kepada E. C. Abendanon: “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami”, 15 Agustus 1902. Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada di sampingnya. Akibat pendidikan Barat, Al Qur’an menjadi terlupakan. Namun, setelah tafsir Al Qur’an dibacanya, Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung keagungan hakikat kehidupan. Judul Buku kumpulan surat Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau “Door Duitsternist tot Licht”, sebenarnya adalah inspirasi yang Kartini peroleh dalam salah satu ayat Al Qur’an, yaitu QS. Al Baqarah (2): 257, yang artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Ayat yang menginspirasi Kartini. Seorang yang beriman akan dilindungi Allah dengan mengeluarkan mereka dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang benderang. Gelap disini maksudnya adalah kekafiran dan terang disini adalah keimanan yang mengesakan Allah sebagai satu-satunya Ilaah yang harus disembah. Karena pada saat itu banyak sekali pihak, terutama pihak penjajah Belanda yang meminta kartini berpindah agama sebagaimana agama mereka. Sayangnya, buku itu diterjemahkan oleh orang non Muslim dan berubah maknanya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang makna awalnya adalah Dari Kegelapan (Kafir) Menuju Cahaya Terang Benderang (Islam). Hal itu menggambarkan perjuangan Kartini yang telah sempat terpengaruh westernisasi dan mencoba kembali ke pangkuan Islam. Kafir di sini bukan berarti sudah meninggalkan Allah, namun pengaruh westernisasi yang telah membuat Kartini bebal dan bodoh dengan melupakan cahaya (gunung kekayaan, yaitu Al Qur’an). Kartini yang menyusuri makna ayat demi ayat bersama ulama-nya, istiqomah dan kuat semangatnya untuk terus memperjuangkan kaumnya. Sebagaimana apa yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Semangat Kartini adalah semangat Jihad fi sabilillah, semangat memperjuangkan kebenaran Islam. Kartini di masa kini seperti apa? Tiap 21 April banyak sekali sekolah dan tempat yang merubah seragamnya menjadi batik dan kebaya, bahkan kaum Adam mengenakan Blangkon. Namun, tak sedikit yang belum sepenuhnya menjiwai perjuangan Kartini. Semangat memperjuangkan hak yang belum didapatkan kaumnya. Semangat perjuangan mempertahankan kehormatan diri, jiwa, dan negaranya dengan tetap beregang pada tali Allah. Bukan hanya sekedar perayaan Hari Kartini, bukan hanya sekedar mengenakan batik dan kebaya serta sanggul, bukan hanya membuat puisi semata…., namun semangat perjuangannya juga hendaknya kita warisi bersama. Semangat memperjuangkan kaumnya atas nama agama dan Tuhannya, Islam dan Allah SWT.

untukmu UMY…

umy…. selaksa kasih kau beriuntukku..

namun ananda tak memiliki banyak untukmu…

mungkin hanya cinta dan rindu di hati untukmu Umy…

Umy.. di hari ibu ini, perkenankan ananda mengungkapkan rindu yang selalu ada di hati anandamu…

umy… i love you…

wah… jadi sedih… keinget umy di rumah. sebenarnya ada sedikit tulisan tentang umy. tapi tulisan wiex beberapa tahun yang lalu. tapi tak apalah, cintaku pada umy selalu up to date…he…. (maksudnya…???)

tulisan itu akan wiex masukan sini, tak apa ya….

moga bisa terungkap kasih dan cinta yang ada di hati…

(Umy… buka blognya wiex donk… baca…. eh, tapi dulu tulisan ini kan sudah pernah wiex berikan ke umy ya… lupa… he…)

ne….

Teruntukmu…. Yang tercinta….

Ibunda

Bunda…

Teriring asa dan cinta…. Ananda coba lepaskan cinta untuk Bunda, sambutlah salam cinta Nanda untuk Bunda….

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu

Bunda…

Seiring ananda putar benak Nanda untuk berfikir dan mengingat kejadian dua puluh satu tahun silam…

Selama sembilan bulan sepuluh hari… ananda dipeluk mesra dalam dekapan rahim Ibunda…

Bunda… Engkau membelai nanda dengan air ketuban di dalamnya, ananda ditimang-timang kasih sayang oleh helaan nafas sang Bunda…. Ananda dininabobokan oleh dendangan alunan denyut jantungmu, Bunda…

Bunda menyuapi ananda melalui ari-ari yang menjadi penghubung kasih sayang antara Ananda dan Ibunda…

Oh… ananda mendapatkan semua keindahan kasih sayang mulia itu…

Namun Bunda…

Semua itu mungkin sudah hanyut dari ingatan Nanda…

21 Mei 21 tahun yang silam… ananda kehilangan semua keindahan itu…

Namun Bunda…

Dengan kehilangan semua keindahan itu… Bunda memberikan dan mencurahkan keindahan yang luar biasa untuk Ananda…

Bunda…

Ananda coba kumpulkan keindahan dunia untuk ganti kehadiran Ibunda, dan ananda coba pilahkan yang terbaik untuk isi kerinduan dan cinta Bunda…

Namun Bunda…

Keindahan dunia tak mampu gantikanmu Bunda…. pun pilahan yang terbaik takkan lagi coba nanda isi dalam kerinduan ini…

Kala Sang Rasul pun bersabda…. “Syurga di telapak kaki Ibunda….”

Ananda pikir… ananda rasa… Dunia… oh.. apalah arti dunia ketika syurga pun di telapak kakimu Bunda, menopang segala apa yang ada di tubuh, hati… dan…

Bunda..

Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu… Bunda… Begitu indah setiap detik dalam gendongan Bunda… Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuan Bunda…

Dan Bunda…

Hingga derita Bunda rasa indah demi anandamu…

Lalu… kenapa hanya rindu yang ananda miliki untuk Ibunda..

Tidak Bunda…

Rindu ini hadir dalam do’a panjang dalam sujud malam anandamu agar syurga hadir selalu untukmu, Bunda… bukan hanya di telapak kakimu, Ibunda…

I Love You Bunda…

Sebulan menuju 21 tahun….

Ananda yang mencintaimu Bunda…

Wiwik Supriyanti

(Gadis Manismu)

Ada CINTA di hati ini…

Ada CINTA di hati ini…

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal

(Al Anfal (8): 2)

Subhanallah, Allah menurunkan surat cinta terindah sepanjang masa untuk hambaNya bahkan untuk manusia sedunia…

Satu ayat tersebut mengingatkanku pada satu kata, “CINTA”. Yang banyak orang meyakini bahwa satu tanda cinta adalah senantisa bergetar hati (jantung)nya kala berjumpa. Bukan hanya saja berjumpa, sekedar diseutkan namanya, telingan mendengar, dan berdebarlah jantung dan hatinya.. ya… itu biasanya yang disampaikan oleh mereka yang sedang jatuh cinta…

Tapi saudaraQ…

Ketika Asma Allah berkumandang, ketika agung asmaNya dilantunkan oleh lisan-lisan muadzin, oleh syair-syair munsyid, oleh seruan-seruan para da’i, apakah hati ini tergetar, apakah kesejukannya menyelingkupi hati ini…

Wahai jiwa yang ada dalam genggaman kekuasaanNya…

Kala cinta padaNya ada bertahta di singgasana hati, bergetarkah kala tiap tangan dan kaki melangkah dan melakukan perintahNya tanpa merasa berat, sudah gemetarkah hati ini kala jasad dan hati benar-benar ikhlash menjauh dari semua yang dilarangNya tanpa protes…

Wahai hati yang megatur jasad ini…

Tanyakan padanya apakah ia benar-benar memiliki rasa cinta padaNya yang senantiasa mentaati dan melakukan apa yang diperintahNya dengan ringan hati dan tangan… yang senantiasa menjauhi segala apa yang dilarangNya tanpa protes…

Sudahkah semuanya dilakukan dengan sepenuh hati hingga bergetarlah ia kala melakukan semuanya, hingga menetes bulir bening dari jernihnya mata iman ini…

Wahai engkau jiwa yang senantiasa ingin mengais cintaNya…

Benarlah kiranya iman yang sebenar-benarnya akan ada kala cinta tumbuh berkembang di dalam hati….

Wahai hati… dan jantung….

Sudahklah Asma Allah senantiasa dilafadzkan dalam tiap detak jantung dan hati hingga kesejukannya menyertai aliran darah yang mengisi tiap bagian jasad tubuh ini…

Wahai mata yang senantisa memandang…

Sudahkah mata ini memandang keindahan semua ciptaanNya hingga tiap tanda (ayat)Nya menambah keimanan di dalam hati ini…

Langit biru luas membentang tanpa tiang penyangga, hamparan hijau permadai bumi menjadi tempat sujud tiap insan beriman yang bersyukur atas semua nikmat dan karuniaNya. Warna-warni indah sebagai tanda keagunganNya… bahkan manusia mana yangmampu mencipta seperti makhluk ciptaanNya sekecil apapun ia, lalat atau nyamuk sekalipun…

Maha Suci Dia, Maha Cerdas Ia… Subhanallah

Betapa cintaNya pada semua hambaNya tak terhitung kiranya… Dia memberi segala apa yang kita butuhkan… Dia memberi apa yang kita pinta, bakan Dia juga memberi apa yang tidak kita minta sekalipun. Hidung, alis, rambut, kuku… semuanya tidak pernah kita pintas sebelumnya…

Maha Besar CintaNya pada kita semua….

Semua tanda (ayat)Nya belumkah cukup menambahkan cinta dan keimanan padaNya… dalam hati ini…

Cinta… ya Cinta….

Sati kata yang indah didengar, tapi bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan… tapi bukankah tak ada yang tidak mungkin di dunia ini…

Rabbiy…

Hati, jiwa, dan jasad ini memohon padaMu… anugerah cinta padaMu dan RasulMu…

Rasa cinta yang memenuhi ruang hati ini hingga tak ada tempat lagi untuk cinta yang lain tanpa seijinMu ya Rabb…

Tapi Rabbiy… Do’a bukanlah jalan pertama…

Jalan pertama adalah Bismillah…

Hati dan lisan yang megucap AsmaMu dalam tiap aktivitas Ragawi dan ukhrawi dalam rangka niat untuk meraih RidhaMu…

Semua dilakukan bukan karena apa-apa dan bukan karena siapa-siapa, tapi hanya karena Allah dan untuk Allah semata…

Bukan hal mudah memang, tapi kembali lagi…”Bismillah…”, insyaAllah bisa selagi kita berusaha untuk bisa.

Jalan kedua adalah Ikhtiar

Usaha untuk merealisasikan semuanya… mengikuti petunjukNya melalui lisan Jibril (Al Qur’an) dan lisan Muhammad (Al Hadits) untuk meniti jalan menujuNya…

Jalan ketiga adalah berdo’a

Kala niat sudah lurus, ikhtiar sudah optimal dan tulus…ada satu kekuatan lagi, kekuatan luar biasa yang Allah bekalkan untuk semua hambaNya yang beriman, bekal kekuatan itu adalah “DO’A”

Karena dalam Al Baqarah (2): 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Sesungguhnya Allah itu dekat dan Allah merasa sangat malu kala hambaNya meminta dan Dia tidak memberinya. Sudah pastilah Allah memberi semua apa yang kita pinta, namun dalam bentuk dan waktu yang berbeda…

Bersabarlah menunggu jawaban dari setiap do’a dalam sujud panjang kita di tengah malam yang gelap nan dingin. Dan yakinlah senantiasa padaNya akan adanya (datangnya) jawaban itu.

Kala niat sudah lurus, ikhtiar dan do’a pun tulus… serahkan dan kembalikan semua padaNya. Tawakkal…. itu jalan terakhir ketika jalan pertama, kedua, dan ketiga sudah dilalui… bukan tawakkal namanya ketika 3 langkah sebelumnya belum dilalui…

Sebagai orang beriman, hanya kepada Allahlah kita bertawakkal…. sebagaimana di akhir ayat tersebut…

Moga semua menjadikan “Ada cinta di hati ini…”

Ya, cinta padaNya, cinta pada yang haq…

Duhai Rabb penggenggam tiap jiwa…

Anugerahkan cinta itu pada hamba… cinta yang memenuhi ruang hati ini… hinggga tak ada lagi tempat untuk cinta yang lainnya… cinta pada dunia dan isinya…

Rabb…

Kalaupun ada rasa cinta pada hambaMu yang lain… ijinkan cinta itu ada dengan jalan yang Engkau ridhoi, hingga hati ini mampu menampung dua cinta sekaligus…

Karna, sungguh hati ini rapuh dan tak mampu untuk menampung dua cinta sekaligus. Hal itu akan bisa kala Engkau memberi kekuatan pada hati ini dengan cinta dan RidhaMu ia ada, ikut hadir dalam hati ini…

Rabb…

Pastikanlah… jika ada cinta di hati ini…pastikan itu adalah cinta padaMu, pada jalan dakwah menujuMu, pada semua hal yang Engkau cintai…

Hingga semuanya terasa indah dengan hadirnya cintaMu di hati ini…

“Tuhan… leraikanlah dunia

Yang mendiam di dalam hatiku

Karena di situ tidak kumampu

Menampung dua cinta…

Hanya cintaMu… kuharap tumbuh

Dibajak dibantai

Nafsu yang ku bunuh…”

Pati @ the moment

Friday, 2nd Oct 2008

JIWA PENDUSTA

JIWA PENDUSTA

Ku dengar bisik jiwa-jiwa dalam kebisuan

Merintih meneriakkan asa yang hampa

Melontar kalimat-kalimat tajam berduri

Mungkin jiwa yang kerdil dalam istana malam

Bongkahan batu menyala

Menyulut api yang sudah berkobar

Setitik nila menghujam

Lidah tersulur mengecap racun dalam impian

Membahana suara tersurung amukan masa

Kulit dosa terkubur dalam masa lalu

Jiwa-jiwa silam menghantui kedok duniawi

Tersungkur, tersengkurap dalam nista

Bayangan gelap menghuyung

Terselubung dalam kelambu

Menghenyakkan mimpi para pendusta

Semarang, 12 Maret 2004

Malam SPMP Unnes 2004

Cermin Muslimah….

CERMIN MUSLIMAH

 

Pandangannya selalu dijaga

Tutur kata tersusun indah

Gerak dakwah lebih diutama

Dalam setiap amalan dunia

Takkan jemu hadapi hidup

Takkan gentar diguncang ujian

Karena hidup berpegang pada Tuhan

Semuanya diserahkan….

Jaga diri cerminan pribadi

Kehormatan terbingkai rapi

Perjuangan bangun generasi

Pebopang bagi jihad suami

Istiqomah di dalam perjaungan

Ikhlas diri menuju ridho Ilahi

Rayuan dunia tiada perduli

Sebab akhirat tujuan diri

 

Subhanallah… begitu indah syair nasyid  Ar Risalah di atas. Mencerminkan pribadi muslimah sejati dengan prinsip yang kokoh dan sikap yang menjaga diri dan jiwa (Islamnya). Seorang muslimah  yang mampu menjaga hijabnya, hijab diri dan hijab hati. Ya, itulah pribadi Muslimah dambaan umat, yang mampu mengusung dakwah ini sampai akhir nanti.

Perjalanan dakwah ini tidaklah mudah. Penuh onak dan duri. Berbagai godaan ada untuk kita yang berjuang di jalan jihad yang akbar, jihad melawan hawa nafsu. Virus cinta atau biasa dikenal dengan Virus Merah Jambu (VMJ) sekarang merupakan hal yang sering dibahas dalam beberapa majlis ta’lim, karena hal itu telah melanda beberapa kader dakwah. Ada yang cinlok (cinta lokasi) karena sering interaksi antara keduanya. Bahkan ada “cintaku bersemi di belakang masjid”.

Mungkin ada yang merasa itulah sosok yang aku dambakan, yang sesuai dengan kriteria yang aku dambakan. Ya.. mungkin itulah sebaris kalimat yang sempat terbersit dalam benak. Padahal Allah-lah yang tahu siapa yang sesuai dan yang terbaik untuk kita dalam pandangan Allah. Sesuai dengan janji-Nya dalam An Nur ayat 26:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”

Itulah janji Allah untuk kita semua, hambaNya yang telah diberi petunjuk dengan bersatunya kita dengan Islam dan dakwah ini. Dan Allah tak akan menyalahi janjiNya…

Dan hanya wanita sholehah dan muslmah yang tercermin dalam syair tersebutlah yang berhak bertahta di syurga-Nya.

Saudariku…..

Jihad melawan hawa nafsu tak akan berakhir begitu saja tanpa ada perjuangan sebelumnya. Seorang muslimah (jika boleh saya ibaratkan) layaknya sebuah rumah indah lengakp dengan perabotnya. Apabila pintu tak terbuka, jendela terkunci, maka peluang pencuri masuk rumah untuk mengambil perabotan indah akan semakin kecil. Apabila pintu rumah terbuka lebar maka pencuri masuk dan mungkin penghuni tak sadar bahwa semua perabot raib.

Saudaraku.. muslimah… cahaya alam…

Begitulah… kala virus-virus itu datang, bukan salah kaum Adam semata yang datang menawarkan peluang. Tapi jika mau dan mampu menjaga hijab, dan menjadi dalam syair lagu tersebut… InsyaAllah peluang terjadinya hal tersebut amatlah kecil. ”Jaga diri cerminan pribadi, Kehormatan terbingkai rapi”, ya.. itulah yang harusnya kita lakukan sebagai seorang muslimah pemegang amanah dakwah.

Kala ponsel dijadikan media, untuk mengkomunikasikan hal-hal yang tidak penting, yang tak perlu… kala organisasi atau lembaga dijadikan media untuk mengenalnya hingga mengaguminya dan akhirnya muncul virus ganas yang bisa merontokkan ghiroh jihad dan dakwah, VMJ, Virus cinta sesama aktivis.

Cinta padanya (rekan ato partner kerja di lembaga) hadir secar tiba-tiba tanpa disangka datangnya darimana itu adalah hal yang wajar. Karena Allah sudah menciptakan rasa itu secar alami, secara fitrohnya lelaki memiliki ketertarikan kepada wanita, dan sebaliknya wanita memiliki ketertarikan dengan lelaki. Masalah disini adalah bagaimana memanage rasa itu agar tetap terbingkai rapi agar tak menjadi fitnah dunia. Agar tetap terjaga izzah diri hingga tiba saat yang tepat Allah mengirim dan mempertemukan dengan yang dijanjikan-Nya dalam An Nur: 26 tersebut. Agar kelak kita menjadi muslimah (bidadari) syurga-Nya.

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jelita laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

” … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Ukhtiy…..

Tidak inginkah kita menjadi seperti apa yang dijanjikan Allah kepada kita semua. Sekali Allah berjanji tak akan pernah Ia mengingkari. Apakah perlu kita meragukan janji-Nya…????

Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholichah

Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

Mari bersama kita belajar menjadi seperti apa yang ada dalam lagu itu dan seperti yang ada dalam Al Qur’an dan al Hadits. Bismilah…. kita tak punya kekuatan apapun, Dia-lah yang memiliki segalanya… bermohonlah kepada-Nya agar diberi kekuatan berjuang untuk benar-benar menjaga hijab ini hingga tiba waktunya untuk membuka di saat yang tepat, saat yang dijanjikan Allah SWT.

Laa Izzata illa bil jihad… tiada kemuliaan kecuali dengan perjuangan. Mari kita berjuang bersama…

dakwah ini…

DAKWAH…

satu kata yang mungkin belum terpikirkan dalam benak saya, DULU.

tapi, kini… satu kata itu terdengar indah dalam hati dan mulut ini. walaupun, diakui tidak diakui satu kata itu penuh dengan liku, onak dan duri pasti kan dihadapi, di manapun.

dakwah…

ya, satu kata itu yang membantu saya semakin mengerti siapa saya (setiap kita adalah dai sebelum yang lainnya). dan membantu saya untuk semakin mengenal dan mencintai fitrah saya sebagai seorang muslim. sebuah sandangan kebanggaan.

ya… bersama, kita usung dakwah Islam, melalui apapun yang kita bisa.. dengan sedikit apa yang kita miliki, dengan segala kekurangan diri ini, tapi yakinlah ada banyak saudara kita yang akan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. so.. bersama-sama dengan jama’ah ini,mari kita bangkitkan semangat (ghirah) muslimin untuk menegakkan kalimatullah di bumi ini…

bismillah.. menjadi sholeh atauppun sholihah memangbegitu indah…

tapi tidaklahmudah..

maka berusahalah…

bersama dalam jama’ah dakwah yang indah ini

SloganQ

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (al Israa’ : 7)

Curahan cinta untuk-Mu

Allah…

Hamba ingin bercerita, jika hamba angis ga pa2 ya..

Ya Allah… hamba hars bagaimana… hamba harus tanya pada siapa…

Di sini… siapa yang tahu dan ngertiin hamba, hati hamba, dan perasaan hamba…

Ya Allah… hamba tak kecewa pada-Mu, tidak!

 

Ya Allah… moga hamba selalu mengingat cinta dan kasih-Mu..

Moga bibir ini selalu basah dengan syukur kepada-Mu..

Ya Allah.. moga hati ini selalu ada Engkau…

Moga Engkau selalu berjaya dan bersemayam dalam damainya hati dan jiwaku…

Ya Allah… moga apapun yang terjadi pada hamba.. itulah yang terbak untuk hamba karena Engkaulah yang paling tahu kebutuhan hamba,,, dan moga hati ini ikhlash menerima dan menjalaninya…

 

Ya Allah…

Hamba tahu, hamba bukan makhluk sempurna…

Hamba sadar… hamba bukan yang terbaik…

Hamba sadar… begitu banyak kekurangan yang ada dalam diri hamba…

Maka ya Allah…

Ingatkan hamba ketika lupa, sadarkan hamba kala terlena…

Hamaba selalu memohon cermin untuk Engkau kirimkan untukku…

Ikhlashkan hati hamba jika ternyata masih ada yang kurang dalam diri hamna…

Dan ya Allah.. anugerahkan kekuatan untuk hamba memperbaiki diri…

 

Ya Allah… hamba sadar,  jaga hamba agar selalu dan senantiasa sadar akan semua yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba…

Ya Allah… buka hati hamba untuk menerima ilmu, menerima ilmu langsung dari-Mu ataupun dari para orang yang berilmu (ulama)

Buka hati hamba untuk menerima hikmah pada tiap kejadian. Jaga lisan hamba.. jaga pandangan hamba.. jaga hati hamba…jaga akhlak hamba… jaga iman dan taqwa hamba…jaga cinta yang ada dalam jiwa hamba untuk-Mu… wlo sedikit ya Allah…. hamba ingin itu semua tetap Engkau jaga…. untukku…

 

Ya Allah.. kuatkan hamba kerjakan mengaruhi hidup  yang penuh liku-liku

Ya Allah.. jaga hamaba agar tetap istiqomah….

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!