Awan berdzikr

Dalam sebuah pejalanan menuju walimahan (resepsi) seorang saudari satu kampus. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dan memakan waktu lama. Antara Semarang dan Pati. Namun, karena jam berangkat kami sudah siang, jadi perjalanan kami harus dihentikan sebentar untuk melaksanakan shalat Dhuhur di masjid (salah satu masjid di Kudus).

Saat itu, saya sedang berhalangan jadi tidak ikut serta masuk ke masjid, namun saya dan beberapa teman tetap di dekat mobil rombongan, sambil minum es di tengah hari yang panas. Seusai shalat beberapa rekan akhwat (putri) terlihat ramai berebutan ponsel dan menatap ke atas. Sedangkan yang ikhwan (putra) sudah gabung dengan rombongan akhwat yang tidak shalat. Saya tidak tahu persis apa yang mereka ributkan. Saya pun ikut-ikutan mendongakkan pandangan ke atas, tapi saya tidak melihat apapun selain pandangan langit yang seperti biasanya. Tidak ada pesawat, burung atau apapun.

Setelah sampai bergabung dengan kami, saya pun langsung bertanya apa yang telah terjadi. Mereka dengan semangat memamerkan satu buah foto yang bergambarkan awan berdzikr membentuk asma Allah. Subhanallah, bergetar hati saya kala itu. Ternyata bukan hanya cerita yang saya kira awan itu muncul ditemukan oleh seorang ahli dan hanya waktu sedikit saja, ternyata benar-benar terjadi dengan selang waktu tertentu. Walaupun saya tidak melihat awan itu secara langsung, namun saya sangat bersyukur karena dapat melihat foto yang didapatkan teman saya secara langsung dan saya pun melihat kegaduhan mereka ketika melihat keajaiban tersebut dan mengambil gambar yang bisa saya nikmati juga.

Subhanallah, semua ciptaan Allah senantiasa berdzikr padaNya, sedangkan saya sebagai hamba yang dikaruniai akal dan hati sering lupa. Dalam perjalanan yang bermakna itu, saya berusaha tidak mau kalah dengan awan dengan terus menyenandungkan asmaNya di lisan dan di hati. Alhamdulillah ya Allah Kau anugerahkan satu kejadian itu untuk hamba.

Iklan

tunjuk satu bintang

**Tunjuk Satu Bintang**

kutunjuk satu bintang

untuk terangi malam indahku nan gelap..

kutunjuk satu bintang untuk membuat binar indah dalam pijar langit hatiku..

kutunjuk satu bintang …

menambah satu cahaya dalam sudut ruang di hatiku..

 

kan ku tunjuk satu bintang…

kecil..

indah…

berpijar setiap saat

kutunjuk satu bintang..

untukku mencapai cinta dan rinduku padaNya..

untuk menuntun langkahku menggapai ridhaNya

bintang itu…

hadir menuntun satu jiwa

membawa ke jannahnya

Dua Sayap Syurga

(Cerita ringan sebagai pengantar)

Ada seorang sahabat, yang memiliki fisik yang beda dari yang lainnya. Sahabat tersebut orangnya jelek, pendek, hitam, miskin pula. Sahabat tersebut memiliki istri dengan rupa yang jauh dari rupa suaminya. Istri sahabat tersebut rupawan dengan paras yang cantik, dengan kulit yang putih dan mulus, akhlaknya baik pula…

Suatu ketika, sang suami memandangai sang istri nan cantik jelita. Tanpa berkedip, hati sang suami senantiasa bertasbih memujiNya yang telah menciptakan wanita secantik istrinya dan menganugerahkan padanya. Melihat tingkah aneh suaminya, sang istri terheran dan bertanya, “Wahai suamiku tercinta, mengapa engkau memandangiku sebagaimana demikian?”

”Wahai istriku yang kucinta pula karenaNya, aku sangat bersyukur memiliki istri yang cantik jelita seperti engkau”

“Wahai suamiku… aku sangat bahagia, karena kelak kita berdua akan masuk syurga”

“Bagaimana engkau tahu kita akan masuk syurga..??”

“Karena engkau bersyukur memiliki istri seperti saya, dan saya pun bersabar memiliki suami sebagaimana engkau, dan orang yang bersyukur dan bersabar akan masuk syurga”

Ya… itulah 2 kunci dalam hidup ini… yang satu sabar dan yang satu syukur

Bersabar ketika kita mendapatkan ujian cintaNya…dan bersabar ketika kita mendapatkan cintaNya…

Sungguh indah ketika hidup dihadapi dengan sabar dan syukur. Orang kadang lalai dengan nikmat yang bergelimang mengelilingi hidupnya di satu ketika, hingga lisan ini lupa menglafadzkan hamdalah, sebagai salah satu bukti syukur seorang hamba pada Rabbnya yang melimpahkan anugerah padaNya. Hati yang senantiasa bertasbih, bertahmid, jasad yang senantiasa berinadah sebagai bukti syukur….

Dan…. kala bencana melanda…

Kala ujian datang, menggoda hati… melemahkan tapak kaki mendaki jalan menujuNya….

Wahai engkau jiwa yang merindu syurga…

Sudah selayaknya kita mensyukuri apa pun kondisi kita saat ini karena kita begitu istimewa telah diciptakan…

Dan ketahuilah… wahai engkau…

Sesungguhnya jarak antara masalah dan solusi adalah sejauh jarak antara lutut dan lantai tatkala bersujud…

Sudah Allah anjurkan kepada kita sebagai hamba yang menghamba padaNya untuk bersabar dan senantiasa menguatkan kesabaran kala menghadapi setiap kejadian dalam episode kehidupan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(Ali Imran(3): 200)

Wahai Engkau Putriku Sayang…

Wahai Engkau Puteriku Sayang…

 

Puteriku Sayang…

Lembut mu tak berarti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgasana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya

 

 

 

 

Indah syair Hijjaz mengalun di dalam ruangan ini, di dalam kamar. Tanpa terasa, hati dan perasaan terhanyut dalam lantunan indah merdu lagu tersebut. Tanpa kusadari air mata ini metinik sebulir demi sebulir. Ya… entah kenapa….

Kini.. baru kusadari betapa indah syair lagu tersebut, penuh makna tiada tara

Wanita, di sini adalah seorang muslimah…

Seorang  muslimah sejati adalah mereka yang senantiasa mengiringi langkahnya dengan perjuangan menegakkan kalimah Allah (Islam). Muslimah bertutur lembut, bersapa indah kala mengucap tiap kata… tapi kelembutan tersebut terbingkai dalam kokoh di hati untuk memegang prinsip hidupnya, prinsip yang diajarkanNya melalui Rasul Muhammad dan Rasul-Rasul sebelumnya. Lembut tutur kata, tapi kuat dan kokoh di dalam jiwa memegang prinsip

Kekokohan iman dan kegigihan mempertahankan prinsip hidupnya adalah sebuah ikhtiar meraih indah cintaNya. Sebuah bukti satu rasa, rasa takut dan rasa malu pada pemiliknya, Rabb Allah… tapi perlu diingat, kelembutan yang ditampakan para muslimah sejati bukan semata-mata sekedar hiasan fana untuk meraih simpati dan empati dari selainNya.. bukan! Kelembutan itu lahir dari lembutnya hati yang dipenuhi dengan amalan-amalan ilahiyah, yang senantiasa dilingkupi rasa malu dan takut padaNya… tiap kata dipilih agar tidak menjadi sebilah pedang yang kan menggoreskan luka di hati saudaranya… tiap kata yang senantiasa di

Di balik semua keindahan dan kelembutan tingkah polahnya, tersimpan satu jiwa yang kokoh… jiwa seorag muslimah sejati…

Satu rasa cintanya pada hambaNya hanya sekedar meraih kecintaanNya padanya. Ketaatan pada imam dalam hidupnya, keteguhan hati mempertahankan satu bakti pada hambaNya yang menjadi pemimpin hidupnya (suami), sebuah senyum untuk mendapat keridhaan (suami)nya, sepiring nasi, secangkir kopi serta selembar koran di tiap pagi, sebuah tangan lembut yang kan mengusap tiap bulir airmata yangmenetes di pipi, sepasang pundak yang akan membantu menopang  beban aktivitas dakwah di luar sana, sebuah senyum dengan mata yang berbinar yang akan membantu menepis duka lara, dan sebuah keikhlasan melakukan semuanya hanya untuk meraih cinta dan ridhaNya adalah mahkota dan akan mengantar meunuju mahligai syurgaNya yang abadi

Seorang muslimah pencintaNya memiliki satu kekuatan untuk menjaga diri dan hati, kekuatan itu adalah rasa malu, malu pada Tuhannya yang melihat semuanya, malu pada Rabb pemilik jiwa raganya. Yang dengan satu rasa itu (malu) akan membantunya menjaga diri dan nama. Tidak akan bisa satu orang pun merampas darinya, kecuali dia sendiri yang akan menyerahkannya sendiri kepada perampas jiwa dan nama….

Muslimah… dialah tonggak utama menegakkan negara. Kala muslimah (wanita) kokoh iman dan ketaatannya pada sang Pencipta, kan kokoh pula pondasi bangsa dan negara ini… Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama,
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya, Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara Mahligai syurga itulah tempatnya
”, ya… lagu yang merdu