-KARTINI-

Kartini Sang LegendaKartini Ku Kini…

21 April 1879 (28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808) di Mayong, Jepara. Seorang bayi wanita yang kelak menjadi tokoh pembaharu, telah lahir. Dia lah Raden Ajeng Kartini. Ia tumbuh dalam keluarga keraton. Ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat, ibunya bernama M.A. Ngasirah, Suaminya bernama Raden Adipati Joyoningrat, Anaknya bernama R.M. Soesalit. Dia anak ke 5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri yang bernama : R. M Sosroningrat, Pangeran A. Sosrobusono (Bupati Ngawi), R.A. Tjokroadisosro, Drs. R.M. Sosrokartono, R.A. Rukmini, R.A. Kardinah (Bupati Tegal), R.A. Kartinah, R.M. Sosromuljono, R.A. Sumantri, R.M. Sosrorawito. Salah satu prestasi awalnya adalah mendirikan Sekolah untuk Wanita Jepara & Rembang. Perjuangan awal itulah yang melejitkan namanya.

Kisah ini berawal dari semangatnya mempelajari Al Qur’an pada seorang ulama di keraton. Huruf demi huruf Kartini pelajari, ayat demi ayat Kartini tekuni. Agama Islam yang telah diyakininya sejak kecil enggan Kartini lepaskan. Dengan tetap memegang teguh Islam dan semua ajarannya, Kartini berarti telah tidak merendahkan derajatnya. Sebagaimana agama penjajah yang dinilai merendahkan derajatnya. Detik demi detik Kartini gunakan untuk mempelajari dan mendalami Islam yang akhirnya berbuah pada upaya nyata perbaikan kaumnya dengan memperjuangkan pendidikan dan hal lainnya. Hal yang Kartini dapatkan dari waktu-waktu belajar Al Qur’an, sehingga terlontar komentar yang Kartini tulis dalam surat dan bukunya. Jeritan jiwa Kartini setelah membaca tafsir Al Qur’an, “Wat zijn toch stom, toch dom, om een heel leven lang een berg schatten naast ons te hebben et het niet te zien, niet te weten” yang artinya “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami.” “Wij zochten niet demenschen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand”, yang artinya, “kami tidak perlu mencari pelipur hati pada manusia, kami hanya berpegang teguh pada tangan Allah.” Dari kumpulan surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah saat itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Rasa kekagumannya terhadap nilai ajaran Al Qur’an dituturkan kepada E. C. Abendanon: “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami”, 15 Agustus 1902. Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada di sampingnya. Akibat pendidikan Barat, Al Qur’an menjadi terlupakan. Namun, setelah tafsir Al Qur’an dibacanya, Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung keagungan hakikat kehidupan. Judul Buku kumpulan surat Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau “Door Duitsternist tot Licht”, sebenarnya adalah inspirasi yang Kartini peroleh dalam salah satu ayat Al Qur’an, yaitu QS. Al Baqarah (2): 257, yang artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Ayat yang menginspirasi Kartini. Seorang yang beriman akan dilindungi Allah dengan mengeluarkan mereka dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang benderang. Gelap disini maksudnya adalah kekafiran dan terang disini adalah keimanan yang mengesakan Allah sebagai satu-satunya Ilaah yang harus disembah. Karena pada saat itu banyak sekali pihak, terutama pihak penjajah Belanda yang meminta kartini berpindah agama sebagaimana agama mereka. Sayangnya, buku itu diterjemahkan oleh orang non Muslim dan berubah maknanya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang makna awalnya adalah Dari Kegelapan (Kafir) Menuju Cahaya Terang Benderang (Islam). Hal itu menggambarkan perjuangan Kartini yang telah sempat terpengaruh westernisasi dan mencoba kembali ke pangkuan Islam. Kafir di sini bukan berarti sudah meninggalkan Allah, namun pengaruh westernisasi yang telah membuat Kartini bebal dan bodoh dengan melupakan cahaya (gunung kekayaan, yaitu Al Qur’an). Kartini yang menyusuri makna ayat demi ayat bersama ulama-nya, istiqomah dan kuat semangatnya untuk terus memperjuangkan kaumnya. Sebagaimana apa yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Semangat Kartini adalah semangat Jihad fi sabilillah, semangat memperjuangkan kebenaran Islam. Kartini di masa kini seperti apa? Tiap 21 April banyak sekali sekolah dan tempat yang merubah seragamnya menjadi batik dan kebaya, bahkan kaum Adam mengenakan Blangkon. Namun, tak sedikit yang belum sepenuhnya menjiwai perjuangan Kartini. Semangat memperjuangkan hak yang belum didapatkan kaumnya. Semangat perjuangan mempertahankan kehormatan diri, jiwa, dan negaranya dengan tetap beregang pada tali Allah. Bukan hanya sekedar perayaan Hari Kartini, bukan hanya sekedar mengenakan batik dan kebaya serta sanggul, bukan hanya membuat puisi semata…., namun semangat perjuangannya juga hendaknya kita warisi bersama. Semangat memperjuangkan kaumnya atas nama agama dan Tuhannya, Islam dan Allah SWT.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: