tunjuk satu bintang

**Tunjuk Satu Bintang**

kutunjuk satu bintang

untuk terangi malam indahku nan gelap..

kutunjuk satu bintang untuk membuat binar indah dalam pijar langit hatiku..

kutunjuk satu bintang …

menambah satu cahaya dalam sudut ruang di hatiku..

 

kan ku tunjuk satu bintang…

kecil..

indah…

berpijar setiap saat

kutunjuk satu bintang..

untukku mencapai cinta dan rinduku padaNya..

untuk menuntun langkahku menggapai ridhaNya

bintang itu…

hadir menuntun satu jiwa

membawa ke jannahnya

Iklan

-KARTINI-

Kartini Sang LegendaKartini Ku Kini…

21 April 1879 (28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808) di Mayong, Jepara. Seorang bayi wanita yang kelak menjadi tokoh pembaharu, telah lahir. Dia lah Raden Ajeng Kartini. Ia tumbuh dalam keluarga keraton. Ayahnya bernama R.M. Adipati Ario Sosroningrat, ibunya bernama M.A. Ngasirah, Suaminya bernama Raden Adipati Joyoningrat, Anaknya bernama R.M. Soesalit. Dia anak ke 5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri yang bernama : R. M Sosroningrat, Pangeran A. Sosrobusono (Bupati Ngawi), R.A. Tjokroadisosro, Drs. R.M. Sosrokartono, R.A. Rukmini, R.A. Kardinah (Bupati Tegal), R.A. Kartinah, R.M. Sosromuljono, R.A. Sumantri, R.M. Sosrorawito. Salah satu prestasi awalnya adalah mendirikan Sekolah untuk Wanita Jepara & Rembang. Perjuangan awal itulah yang melejitkan namanya.

Kisah ini berawal dari semangatnya mempelajari Al Qur’an pada seorang ulama di keraton. Huruf demi huruf Kartini pelajari, ayat demi ayat Kartini tekuni. Agama Islam yang telah diyakininya sejak kecil enggan Kartini lepaskan. Dengan tetap memegang teguh Islam dan semua ajarannya, Kartini berarti telah tidak merendahkan derajatnya. Sebagaimana agama penjajah yang dinilai merendahkan derajatnya. Detik demi detik Kartini gunakan untuk mempelajari dan mendalami Islam yang akhirnya berbuah pada upaya nyata perbaikan kaumnya dengan memperjuangkan pendidikan dan hal lainnya. Hal yang Kartini dapatkan dari waktu-waktu belajar Al Qur’an, sehingga terlontar komentar yang Kartini tulis dalam surat dan bukunya. Jeritan jiwa Kartini setelah membaca tafsir Al Qur’an, “Wat zijn toch stom, toch dom, om een heel leven lang een berg schatten naast ons te hebben et het niet te zien, niet te weten” yang artinya “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami.” “Wij zochten niet demenschen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand”, yang artinya, “kami tidak perlu mencari pelipur hati pada manusia, kami hanya berpegang teguh pada tangan Allah.” Dari kumpulan surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah saat itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Rasa kekagumannya terhadap nilai ajaran Al Qur’an dituturkan kepada E. C. Abendanon: “Alangkah bebalnya, bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur’an) di samping kami”, 15 Agustus 1902. Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada di sampingnya. Akibat pendidikan Barat, Al Qur’an menjadi terlupakan. Namun, setelah tafsir Al Qur’an dibacanya, Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung keagungan hakikat kehidupan. Judul Buku kumpulan surat Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau “Door Duitsternist tot Licht”, sebenarnya adalah inspirasi yang Kartini peroleh dalam salah satu ayat Al Qur’an, yaitu QS. Al Baqarah (2): 257, yang artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Ayat yang menginspirasi Kartini. Seorang yang beriman akan dilindungi Allah dengan mengeluarkan mereka dari tempat yang gelap menuju tempat yang terang benderang. Gelap disini maksudnya adalah kekafiran dan terang disini adalah keimanan yang mengesakan Allah sebagai satu-satunya Ilaah yang harus disembah. Karena pada saat itu banyak sekali pihak, terutama pihak penjajah Belanda yang meminta kartini berpindah agama sebagaimana agama mereka. Sayangnya, buku itu diterjemahkan oleh orang non Muslim dan berubah maknanya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang makna awalnya adalah Dari Kegelapan (Kafir) Menuju Cahaya Terang Benderang (Islam). Hal itu menggambarkan perjuangan Kartini yang telah sempat terpengaruh westernisasi dan mencoba kembali ke pangkuan Islam. Kafir di sini bukan berarti sudah meninggalkan Allah, namun pengaruh westernisasi yang telah membuat Kartini bebal dan bodoh dengan melupakan cahaya (gunung kekayaan, yaitu Al Qur’an). Kartini yang menyusuri makna ayat demi ayat bersama ulama-nya, istiqomah dan kuat semangatnya untuk terus memperjuangkan kaumnya. Sebagaimana apa yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Semangat Kartini adalah semangat Jihad fi sabilillah, semangat memperjuangkan kebenaran Islam. Kartini di masa kini seperti apa? Tiap 21 April banyak sekali sekolah dan tempat yang merubah seragamnya menjadi batik dan kebaya, bahkan kaum Adam mengenakan Blangkon. Namun, tak sedikit yang belum sepenuhnya menjiwai perjuangan Kartini. Semangat memperjuangkan hak yang belum didapatkan kaumnya. Semangat perjuangan mempertahankan kehormatan diri, jiwa, dan negaranya dengan tetap beregang pada tali Allah. Bukan hanya sekedar perayaan Hari Kartini, bukan hanya sekedar mengenakan batik dan kebaya serta sanggul, bukan hanya membuat puisi semata…., namun semangat perjuangannya juga hendaknya kita warisi bersama. Semangat memperjuangkan kaumnya atas nama agama dan Tuhannya, Islam dan Allah SWT.

Awan berdzikr

Dalam sebuah pejalanan menuju walimahan (resepsi) seorang saudari satu kampus. Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dan memakan waktu lama. Antara Semarang dan Pati. Namun, karena jam berangkat kami sudah siang, jadi perjalanan kami harus dihentikan sebentar untuk melaksanakan shalat Dhuhur di masjid (salah satu masjid di Kudus).

Saat itu, saya sedang berhalangan jadi tidak ikut serta masuk ke masjid, namun saya dan beberapa teman tetap di dekat mobil rombongan, sambil minum es di tengah hari yang panas. Seusai shalat beberapa rekan akhwat (putri) terlihat ramai berebutan ponsel dan menatap ke atas. Sedangkan yang ikhwan (putra) sudah gabung dengan rombongan akhwat yang tidak shalat. Saya tidak tahu persis apa yang mereka ributkan. Saya pun ikut-ikutan mendongakkan pandangan ke atas, tapi saya tidak melihat apapun selain pandangan langit yang seperti biasanya. Tidak ada pesawat, burung atau apapun.

Setelah sampai bergabung dengan kami, saya pun langsung bertanya apa yang telah terjadi. Mereka dengan semangat memamerkan satu buah foto yang bergambarkan awan berdzikr membentuk asma Allah. Subhanallah, bergetar hati saya kala itu. Ternyata bukan hanya cerita yang saya kira awan itu muncul ditemukan oleh seorang ahli dan hanya waktu sedikit saja, ternyata benar-benar terjadi dengan selang waktu tertentu. Walaupun saya tidak melihat awan itu secara langsung, namun saya sangat bersyukur karena dapat melihat foto yang didapatkan teman saya secara langsung dan saya pun melihat kegaduhan mereka ketika melihat keajaiban tersebut dan mengambil gambar yang bisa saya nikmati juga.

Subhanallah, semua ciptaan Allah senantiasa berdzikr padaNya, sedangkan saya sebagai hamba yang dikaruniai akal dan hati sering lupa. Dalam perjalanan yang bermakna itu, saya berusaha tidak mau kalah dengan awan dengan terus menyenandungkan asmaNya di lisan dan di hati. Alhamdulillah ya Allah Kau anugerahkan satu kejadian itu untuk hamba.

untukmu UMY…

umy…. selaksa kasih kau beriuntukku..

namun ananda tak memiliki banyak untukmu…

mungkin hanya cinta dan rindu di hati untukmu Umy…

Umy.. di hari ibu ini, perkenankan ananda mengungkapkan rindu yang selalu ada di hati anandamu…

umy… i love you…

wah… jadi sedih… keinget umy di rumah. sebenarnya ada sedikit tulisan tentang umy. tapi tulisan wiex beberapa tahun yang lalu. tapi tak apalah, cintaku pada umy selalu up to date…he…. (maksudnya…???)

tulisan itu akan wiex masukan sini, tak apa ya….

moga bisa terungkap kasih dan cinta yang ada di hati…

(Umy… buka blognya wiex donk… baca…. eh, tapi dulu tulisan ini kan sudah pernah wiex berikan ke umy ya… lupa… he…)

ne….

Teruntukmu…. Yang tercinta….

Ibunda

Bunda…

Teriring asa dan cinta…. Ananda coba lepaskan cinta untuk Bunda, sambutlah salam cinta Nanda untuk Bunda….

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu

Bunda…

Seiring ananda putar benak Nanda untuk berfikir dan mengingat kejadian dua puluh satu tahun silam…

Selama sembilan bulan sepuluh hari… ananda dipeluk mesra dalam dekapan rahim Ibunda…

Bunda… Engkau membelai nanda dengan air ketuban di dalamnya, ananda ditimang-timang kasih sayang oleh helaan nafas sang Bunda…. Ananda dininabobokan oleh dendangan alunan denyut jantungmu, Bunda…

Bunda menyuapi ananda melalui ari-ari yang menjadi penghubung kasih sayang antara Ananda dan Ibunda…

Oh… ananda mendapatkan semua keindahan kasih sayang mulia itu…

Namun Bunda…

Semua itu mungkin sudah hanyut dari ingatan Nanda…

21 Mei 21 tahun yang silam… ananda kehilangan semua keindahan itu…

Namun Bunda…

Dengan kehilangan semua keindahan itu… Bunda memberikan dan mencurahkan keindahan yang luar biasa untuk Ananda…

Bunda…

Ananda coba kumpulkan keindahan dunia untuk ganti kehadiran Ibunda, dan ananda coba pilahkan yang terbaik untuk isi kerinduan dan cinta Bunda…

Namun Bunda…

Keindahan dunia tak mampu gantikanmu Bunda…. pun pilahan yang terbaik takkan lagi coba nanda isi dalam kerinduan ini…

Kala Sang Rasul pun bersabda…. “Syurga di telapak kaki Ibunda….”

Ananda pikir… ananda rasa… Dunia… oh.. apalah arti dunia ketika syurga pun di telapak kakimu Bunda, menopang segala apa yang ada di tubuh, hati… dan…

Bunda..

Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu… Bunda… Begitu indah setiap detik dalam gendongan Bunda… Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuan Bunda…

Dan Bunda…

Hingga derita Bunda rasa indah demi anandamu…

Lalu… kenapa hanya rindu yang ananda miliki untuk Ibunda..

Tidak Bunda…

Rindu ini hadir dalam do’a panjang dalam sujud malam anandamu agar syurga hadir selalu untukmu, Bunda… bukan hanya di telapak kakimu, Ibunda…

I Love You Bunda…

Sebulan menuju 21 tahun….

Ananda yang mencintaimu Bunda…

Wiwik Supriyanti

(Gadis Manismu)

Dua Sayap Syurga

(Cerita ringan sebagai pengantar)

Ada seorang sahabat, yang memiliki fisik yang beda dari yang lainnya. Sahabat tersebut orangnya jelek, pendek, hitam, miskin pula. Sahabat tersebut memiliki istri dengan rupa yang jauh dari rupa suaminya. Istri sahabat tersebut rupawan dengan paras yang cantik, dengan kulit yang putih dan mulus, akhlaknya baik pula…

Suatu ketika, sang suami memandangai sang istri nan cantik jelita. Tanpa berkedip, hati sang suami senantiasa bertasbih memujiNya yang telah menciptakan wanita secantik istrinya dan menganugerahkan padanya. Melihat tingkah aneh suaminya, sang istri terheran dan bertanya, “Wahai suamiku tercinta, mengapa engkau memandangiku sebagaimana demikian?”

”Wahai istriku yang kucinta pula karenaNya, aku sangat bersyukur memiliki istri yang cantik jelita seperti engkau”

“Wahai suamiku… aku sangat bahagia, karena kelak kita berdua akan masuk syurga”

“Bagaimana engkau tahu kita akan masuk syurga..??”

“Karena engkau bersyukur memiliki istri seperti saya, dan saya pun bersabar memiliki suami sebagaimana engkau, dan orang yang bersyukur dan bersabar akan masuk syurga”

Ya… itulah 2 kunci dalam hidup ini… yang satu sabar dan yang satu syukur

Bersabar ketika kita mendapatkan ujian cintaNya…dan bersabar ketika kita mendapatkan cintaNya…

Sungguh indah ketika hidup dihadapi dengan sabar dan syukur. Orang kadang lalai dengan nikmat yang bergelimang mengelilingi hidupnya di satu ketika, hingga lisan ini lupa menglafadzkan hamdalah, sebagai salah satu bukti syukur seorang hamba pada Rabbnya yang melimpahkan anugerah padaNya. Hati yang senantiasa bertasbih, bertahmid, jasad yang senantiasa berinadah sebagai bukti syukur….

Dan…. kala bencana melanda…

Kala ujian datang, menggoda hati… melemahkan tapak kaki mendaki jalan menujuNya….

Wahai engkau jiwa yang merindu syurga…

Sudah selayaknya kita mensyukuri apa pun kondisi kita saat ini karena kita begitu istimewa telah diciptakan…

Dan ketahuilah… wahai engkau…

Sesungguhnya jarak antara masalah dan solusi adalah sejauh jarak antara lutut dan lantai tatkala bersujud…

Sudah Allah anjurkan kepada kita sebagai hamba yang menghamba padaNya untuk bersabar dan senantiasa menguatkan kesabaran kala menghadapi setiap kejadian dalam episode kehidupan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(Ali Imran(3): 200)

Ada CINTA di hati ini…

Ada CINTA di hati ini…

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal

(Al Anfal (8): 2)

Subhanallah, Allah menurunkan surat cinta terindah sepanjang masa untuk hambaNya bahkan untuk manusia sedunia…

Satu ayat tersebut mengingatkanku pada satu kata, “CINTA”. Yang banyak orang meyakini bahwa satu tanda cinta adalah senantisa bergetar hati (jantung)nya kala berjumpa. Bukan hanya saja berjumpa, sekedar diseutkan namanya, telingan mendengar, dan berdebarlah jantung dan hatinya.. ya… itu biasanya yang disampaikan oleh mereka yang sedang jatuh cinta…

Tapi saudaraQ…

Ketika Asma Allah berkumandang, ketika agung asmaNya dilantunkan oleh lisan-lisan muadzin, oleh syair-syair munsyid, oleh seruan-seruan para da’i, apakah hati ini tergetar, apakah kesejukannya menyelingkupi hati ini…

Wahai jiwa yang ada dalam genggaman kekuasaanNya…

Kala cinta padaNya ada bertahta di singgasana hati, bergetarkah kala tiap tangan dan kaki melangkah dan melakukan perintahNya tanpa merasa berat, sudah gemetarkah hati ini kala jasad dan hati benar-benar ikhlash menjauh dari semua yang dilarangNya tanpa protes…

Wahai hati yang megatur jasad ini…

Tanyakan padanya apakah ia benar-benar memiliki rasa cinta padaNya yang senantiasa mentaati dan melakukan apa yang diperintahNya dengan ringan hati dan tangan… yang senantiasa menjauhi segala apa yang dilarangNya tanpa protes…

Sudahkah semuanya dilakukan dengan sepenuh hati hingga bergetarlah ia kala melakukan semuanya, hingga menetes bulir bening dari jernihnya mata iman ini…

Wahai engkau jiwa yang senantiasa ingin mengais cintaNya…

Benarlah kiranya iman yang sebenar-benarnya akan ada kala cinta tumbuh berkembang di dalam hati….

Wahai hati… dan jantung….

Sudahklah Asma Allah senantiasa dilafadzkan dalam tiap detak jantung dan hati hingga kesejukannya menyertai aliran darah yang mengisi tiap bagian jasad tubuh ini…

Wahai mata yang senantisa memandang…

Sudahkah mata ini memandang keindahan semua ciptaanNya hingga tiap tanda (ayat)Nya menambah keimanan di dalam hati ini…

Langit biru luas membentang tanpa tiang penyangga, hamparan hijau permadai bumi menjadi tempat sujud tiap insan beriman yang bersyukur atas semua nikmat dan karuniaNya. Warna-warni indah sebagai tanda keagunganNya… bahkan manusia mana yangmampu mencipta seperti makhluk ciptaanNya sekecil apapun ia, lalat atau nyamuk sekalipun…

Maha Suci Dia, Maha Cerdas Ia… Subhanallah

Betapa cintaNya pada semua hambaNya tak terhitung kiranya… Dia memberi segala apa yang kita butuhkan… Dia memberi apa yang kita pinta, bakan Dia juga memberi apa yang tidak kita minta sekalipun. Hidung, alis, rambut, kuku… semuanya tidak pernah kita pintas sebelumnya…

Maha Besar CintaNya pada kita semua….

Semua tanda (ayat)Nya belumkah cukup menambahkan cinta dan keimanan padaNya… dalam hati ini…

Cinta… ya Cinta….

Sati kata yang indah didengar, tapi bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan… tapi bukankah tak ada yang tidak mungkin di dunia ini…

Rabbiy…

Hati, jiwa, dan jasad ini memohon padaMu… anugerah cinta padaMu dan RasulMu…

Rasa cinta yang memenuhi ruang hati ini hingga tak ada tempat lagi untuk cinta yang lain tanpa seijinMu ya Rabb…

Tapi Rabbiy… Do’a bukanlah jalan pertama…

Jalan pertama adalah Bismillah…

Hati dan lisan yang megucap AsmaMu dalam tiap aktivitas Ragawi dan ukhrawi dalam rangka niat untuk meraih RidhaMu…

Semua dilakukan bukan karena apa-apa dan bukan karena siapa-siapa, tapi hanya karena Allah dan untuk Allah semata…

Bukan hal mudah memang, tapi kembali lagi…”Bismillah…”, insyaAllah bisa selagi kita berusaha untuk bisa.

Jalan kedua adalah Ikhtiar

Usaha untuk merealisasikan semuanya… mengikuti petunjukNya melalui lisan Jibril (Al Qur’an) dan lisan Muhammad (Al Hadits) untuk meniti jalan menujuNya…

Jalan ketiga adalah berdo’a

Kala niat sudah lurus, ikhtiar sudah optimal dan tulus…ada satu kekuatan lagi, kekuatan luar biasa yang Allah bekalkan untuk semua hambaNya yang beriman, bekal kekuatan itu adalah “DO’A”

Karena dalam Al Baqarah (2): 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Sesungguhnya Allah itu dekat dan Allah merasa sangat malu kala hambaNya meminta dan Dia tidak memberinya. Sudah pastilah Allah memberi semua apa yang kita pinta, namun dalam bentuk dan waktu yang berbeda…

Bersabarlah menunggu jawaban dari setiap do’a dalam sujud panjang kita di tengah malam yang gelap nan dingin. Dan yakinlah senantiasa padaNya akan adanya (datangnya) jawaban itu.

Kala niat sudah lurus, ikhtiar dan do’a pun tulus… serahkan dan kembalikan semua padaNya. Tawakkal…. itu jalan terakhir ketika jalan pertama, kedua, dan ketiga sudah dilalui… bukan tawakkal namanya ketika 3 langkah sebelumnya belum dilalui…

Sebagai orang beriman, hanya kepada Allahlah kita bertawakkal…. sebagaimana di akhir ayat tersebut…

Moga semua menjadikan “Ada cinta di hati ini…”

Ya, cinta padaNya, cinta pada yang haq…

Duhai Rabb penggenggam tiap jiwa…

Anugerahkan cinta itu pada hamba… cinta yang memenuhi ruang hati ini… hinggga tak ada lagi tempat untuk cinta yang lainnya… cinta pada dunia dan isinya…

Rabb…

Kalaupun ada rasa cinta pada hambaMu yang lain… ijinkan cinta itu ada dengan jalan yang Engkau ridhoi, hingga hati ini mampu menampung dua cinta sekaligus…

Karna, sungguh hati ini rapuh dan tak mampu untuk menampung dua cinta sekaligus. Hal itu akan bisa kala Engkau memberi kekuatan pada hati ini dengan cinta dan RidhaMu ia ada, ikut hadir dalam hati ini…

Rabb…

Pastikanlah… jika ada cinta di hati ini…pastikan itu adalah cinta padaMu, pada jalan dakwah menujuMu, pada semua hal yang Engkau cintai…

Hingga semuanya terasa indah dengan hadirnya cintaMu di hati ini…

“Tuhan… leraikanlah dunia

Yang mendiam di dalam hatiku

Karena di situ tidak kumampu

Menampung dua cinta…

Hanya cintaMu… kuharap tumbuh

Dibajak dibantai

Nafsu yang ku bunuh…”

Pati @ the moment

Friday, 2nd Oct 2008

Wahai Engkau Putriku Sayang…

Wahai Engkau Puteriku Sayang…

 

Puteriku Sayang…

Lembut mu tak berarti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgasana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya

 

 

 

 

Indah syair Hijjaz mengalun di dalam ruangan ini, di dalam kamar. Tanpa terasa, hati dan perasaan terhanyut dalam lantunan indah merdu lagu tersebut. Tanpa kusadari air mata ini metinik sebulir demi sebulir. Ya… entah kenapa….

Kini.. baru kusadari betapa indah syair lagu tersebut, penuh makna tiada tara

Wanita, di sini adalah seorang muslimah…

Seorang  muslimah sejati adalah mereka yang senantiasa mengiringi langkahnya dengan perjuangan menegakkan kalimah Allah (Islam). Muslimah bertutur lembut, bersapa indah kala mengucap tiap kata… tapi kelembutan tersebut terbingkai dalam kokoh di hati untuk memegang prinsip hidupnya, prinsip yang diajarkanNya melalui Rasul Muhammad dan Rasul-Rasul sebelumnya. Lembut tutur kata, tapi kuat dan kokoh di dalam jiwa memegang prinsip

Kekokohan iman dan kegigihan mempertahankan prinsip hidupnya adalah sebuah ikhtiar meraih indah cintaNya. Sebuah bukti satu rasa, rasa takut dan rasa malu pada pemiliknya, Rabb Allah… tapi perlu diingat, kelembutan yang ditampakan para muslimah sejati bukan semata-mata sekedar hiasan fana untuk meraih simpati dan empati dari selainNya.. bukan! Kelembutan itu lahir dari lembutnya hati yang dipenuhi dengan amalan-amalan ilahiyah, yang senantiasa dilingkupi rasa malu dan takut padaNya… tiap kata dipilih agar tidak menjadi sebilah pedang yang kan menggoreskan luka di hati saudaranya… tiap kata yang senantiasa di

Di balik semua keindahan dan kelembutan tingkah polahnya, tersimpan satu jiwa yang kokoh… jiwa seorag muslimah sejati…

Satu rasa cintanya pada hambaNya hanya sekedar meraih kecintaanNya padanya. Ketaatan pada imam dalam hidupnya, keteguhan hati mempertahankan satu bakti pada hambaNya yang menjadi pemimpin hidupnya (suami), sebuah senyum untuk mendapat keridhaan (suami)nya, sepiring nasi, secangkir kopi serta selembar koran di tiap pagi, sebuah tangan lembut yang kan mengusap tiap bulir airmata yangmenetes di pipi, sepasang pundak yang akan membantu menopang  beban aktivitas dakwah di luar sana, sebuah senyum dengan mata yang berbinar yang akan membantu menepis duka lara, dan sebuah keikhlasan melakukan semuanya hanya untuk meraih cinta dan ridhaNya adalah mahkota dan akan mengantar meunuju mahligai syurgaNya yang abadi

Seorang muslimah pencintaNya memiliki satu kekuatan untuk menjaga diri dan hati, kekuatan itu adalah rasa malu, malu pada Tuhannya yang melihat semuanya, malu pada Rabb pemilik jiwa raganya. Yang dengan satu rasa itu (malu) akan membantunya menjaga diri dan nama. Tidak akan bisa satu orang pun merampas darinya, kecuali dia sendiri yang akan menyerahkannya sendiri kepada perampas jiwa dan nama….

Muslimah… dialah tonggak utama menegakkan negara. Kala muslimah (wanita) kokoh iman dan ketaatannya pada sang Pencipta, kan kokoh pula pondasi bangsa dan negara ini… Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama,
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya, Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara Mahligai syurga itulah tempatnya
”, ya… lagu yang merdu

 

JIWA PENDUSTA

JIWA PENDUSTA

Ku dengar bisik jiwa-jiwa dalam kebisuan

Merintih meneriakkan asa yang hampa

Melontar kalimat-kalimat tajam berduri

Mungkin jiwa yang kerdil dalam istana malam

Bongkahan batu menyala

Menyulut api yang sudah berkobar

Setitik nila menghujam

Lidah tersulur mengecap racun dalam impian

Membahana suara tersurung amukan masa

Kulit dosa terkubur dalam masa lalu

Jiwa-jiwa silam menghantui kedok duniawi

Tersungkur, tersengkurap dalam nista

Bayangan gelap menghuyung

Terselubung dalam kelambu

Menghenyakkan mimpi para pendusta

Semarang, 12 Maret 2004

Malam SPMP Unnes 2004

Cermin Muslimah….

CERMIN MUSLIMAH

 

Pandangannya selalu dijaga

Tutur kata tersusun indah

Gerak dakwah lebih diutama

Dalam setiap amalan dunia

Takkan jemu hadapi hidup

Takkan gentar diguncang ujian

Karena hidup berpegang pada Tuhan

Semuanya diserahkan….

Jaga diri cerminan pribadi

Kehormatan terbingkai rapi

Perjuangan bangun generasi

Pebopang bagi jihad suami

Istiqomah di dalam perjaungan

Ikhlas diri menuju ridho Ilahi

Rayuan dunia tiada perduli

Sebab akhirat tujuan diri

 

Subhanallah… begitu indah syair nasyid  Ar Risalah di atas. Mencerminkan pribadi muslimah sejati dengan prinsip yang kokoh dan sikap yang menjaga diri dan jiwa (Islamnya). Seorang muslimah  yang mampu menjaga hijabnya, hijab diri dan hijab hati. Ya, itulah pribadi Muslimah dambaan umat, yang mampu mengusung dakwah ini sampai akhir nanti.

Perjalanan dakwah ini tidaklah mudah. Penuh onak dan duri. Berbagai godaan ada untuk kita yang berjuang di jalan jihad yang akbar, jihad melawan hawa nafsu. Virus cinta atau biasa dikenal dengan Virus Merah Jambu (VMJ) sekarang merupakan hal yang sering dibahas dalam beberapa majlis ta’lim, karena hal itu telah melanda beberapa kader dakwah. Ada yang cinlok (cinta lokasi) karena sering interaksi antara keduanya. Bahkan ada “cintaku bersemi di belakang masjid”.

Mungkin ada yang merasa itulah sosok yang aku dambakan, yang sesuai dengan kriteria yang aku dambakan. Ya.. mungkin itulah sebaris kalimat yang sempat terbersit dalam benak. Padahal Allah-lah yang tahu siapa yang sesuai dan yang terbaik untuk kita dalam pandangan Allah. Sesuai dengan janji-Nya dalam An Nur ayat 26:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”

Itulah janji Allah untuk kita semua, hambaNya yang telah diberi petunjuk dengan bersatunya kita dengan Islam dan dakwah ini. Dan Allah tak akan menyalahi janjiNya…

Dan hanya wanita sholehah dan muslmah yang tercermin dalam syair tersebutlah yang berhak bertahta di syurga-Nya.

Saudariku…..

Jihad melawan hawa nafsu tak akan berakhir begitu saja tanpa ada perjuangan sebelumnya. Seorang muslimah (jika boleh saya ibaratkan) layaknya sebuah rumah indah lengakp dengan perabotnya. Apabila pintu tak terbuka, jendela terkunci, maka peluang pencuri masuk rumah untuk mengambil perabotan indah akan semakin kecil. Apabila pintu rumah terbuka lebar maka pencuri masuk dan mungkin penghuni tak sadar bahwa semua perabot raib.

Saudaraku.. muslimah… cahaya alam…

Begitulah… kala virus-virus itu datang, bukan salah kaum Adam semata yang datang menawarkan peluang. Tapi jika mau dan mampu menjaga hijab, dan menjadi dalam syair lagu tersebut… InsyaAllah peluang terjadinya hal tersebut amatlah kecil. ”Jaga diri cerminan pribadi, Kehormatan terbingkai rapi”, ya.. itulah yang harusnya kita lakukan sebagai seorang muslimah pemegang amanah dakwah.

Kala ponsel dijadikan media, untuk mengkomunikasikan hal-hal yang tidak penting, yang tak perlu… kala organisasi atau lembaga dijadikan media untuk mengenalnya hingga mengaguminya dan akhirnya muncul virus ganas yang bisa merontokkan ghiroh jihad dan dakwah, VMJ, Virus cinta sesama aktivis.

Cinta padanya (rekan ato partner kerja di lembaga) hadir secar tiba-tiba tanpa disangka datangnya darimana itu adalah hal yang wajar. Karena Allah sudah menciptakan rasa itu secar alami, secara fitrohnya lelaki memiliki ketertarikan kepada wanita, dan sebaliknya wanita memiliki ketertarikan dengan lelaki. Masalah disini adalah bagaimana memanage rasa itu agar tetap terbingkai rapi agar tak menjadi fitnah dunia. Agar tetap terjaga izzah diri hingga tiba saat yang tepat Allah mengirim dan mempertemukan dengan yang dijanjikan-Nya dalam An Nur: 26 tersebut. Agar kelak kita menjadi muslimah (bidadari) syurga-Nya.

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jelita laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

” … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Ukhtiy…..

Tidak inginkah kita menjadi seperti apa yang dijanjikan Allah kepada kita semua. Sekali Allah berjanji tak akan pernah Ia mengingkari. Apakah perlu kita meragukan janji-Nya…????

Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholichah

Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

Mari bersama kita belajar menjadi seperti apa yang ada dalam lagu itu dan seperti yang ada dalam Al Qur’an dan al Hadits. Bismilah…. kita tak punya kekuatan apapun, Dia-lah yang memiliki segalanya… bermohonlah kepada-Nya agar diberi kekuatan berjuang untuk benar-benar menjaga hijab ini hingga tiba waktunya untuk membuka di saat yang tepat, saat yang dijanjikan Allah SWT.

Laa Izzata illa bil jihad… tiada kemuliaan kecuali dengan perjuangan. Mari kita berjuang bersama…

dakwah ini…

DAKWAH…

satu kata yang mungkin belum terpikirkan dalam benak saya, DULU.

tapi, kini… satu kata itu terdengar indah dalam hati dan mulut ini. walaupun, diakui tidak diakui satu kata itu penuh dengan liku, onak dan duri pasti kan dihadapi, di manapun.

dakwah…

ya, satu kata itu yang membantu saya semakin mengerti siapa saya (setiap kita adalah dai sebelum yang lainnya). dan membantu saya untuk semakin mengenal dan mencintai fitrah saya sebagai seorang muslim. sebuah sandangan kebanggaan.

ya… bersama, kita usung dakwah Islam, melalui apapun yang kita bisa.. dengan sedikit apa yang kita miliki, dengan segala kekurangan diri ini, tapi yakinlah ada banyak saudara kita yang akan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. so.. bersama-sama dengan jama’ah ini,mari kita bangkitkan semangat (ghirah) muslimin untuk menegakkan kalimatullah di bumi ini…

bismillah.. menjadi sholeh atauppun sholihah memangbegitu indah…

tapi tidaklahmudah..

maka berusahalah…

bersama dalam jama’ah dakwah yang indah ini

« Older entries